Melayu Oblong "melo" Slideshow: Wak’s trip from Pekanbaru, Sumatra, Indonesia to Riau was created by TripAdvisor. See another Riau slideshow. Create your own stunning slideshow with our free photo slideshow maker.

Minggu, 17 Oktober 2010

Pernikahan Melayu Riau




Menurut adat dan tradisi masyarakat Melayu Riau, tahapan sebuah pesta pernikahan tak luput dari nilai dan makna yang terkandung didalamnya. Masyarakat Maelayu Riau cukup kental menerapkan nilai nilai agama Islam dalam setiap aspek kehidupannya tak terkecuali dengan setiap tahapan prosesipernikahan begitupun adat istiadat dan kebudayaannya yang harmonis tergambar dalam tiap ritual yang dilakukan pada saat upacara pernikahan berlangsung. Ada beberapa tahap dalam upacara pernikahan Melayu Riau, yaitu :

a. Pra Pernikahan
Merisik (melihat calon istri); merupakan proses awal untuk menanyakan tentang seorang gadis yang akan dilamar, terutama mengenai budi pekerti, sopan santun, apakah sudah tamat mengaji dan apakah sudah ada lamaran yang sampai padanya. Kegiatan dilakukan oleh seorang yang ditunjuk sebagai wakil orang tua pihak laki-laki, yang disebut telangkai.





Meminang (mengantar tanda); selang beberapa hari utusn pihak laki-laki datang kembali kerumah orang tyua si si gadis untuk menyampaikan tanda pengikat. Sebentuk perhiasan cincin, atau kalung dan tepa’sirih (tempat sirih), apabila sirih yang dibawa pihak laki-laki dicicipi keluarga dari pihak perempuan, adalah pertanda diterima. Dalam acara ini ditentukan juga kapan hari H pernikahan akan berlangsung.




Mengantar Belanja (hantaran keperluan pesta pernuikahan); dalam tahap ini pihak laki-laki kembali datang ke rumah keluarga si gadis. Dalam antar belanja keperluan pesta pernikahan biasanya ditentukan atas permintaan keluarga pihak perempaun. Sejumlah uang yang telah dibentuk sedemikian rupa dibawa beserta pengiringnya seperti seperangkat pakaian dan bendabenda yang disenangi sang gadis.

Dalam acara antar belanja seperangkat tenun siak tak pernah ketinggalan untuk diberikan pada sang gadis. Kain tenun siak yang indah merupakan ciri khas kain tenun masyarakat Melayu Riau. Dalam adat Melayu Riau setiap hantaran biasanya berjumlah ganjil. Makna yang terkandung alam jumlah ganjil dalam setiap hantaran yang diberikan terkait dengan nilai-nilai agama Islam yang lebih menyukai angka ganjil seperti jumlah 99 Asmau’l Husna.

Menggantung (mendekorasi rumah); Acara mendekor biasanya dilakukan ditempat kediaman keluarga mempelai perempuan sebagai pihak penyelenggara pesta. Saat pemasangan dekorasi pelaminan yang dihiasi kain tekat dan kelambu berwarna-warni seperti merah, kuning dan hijau.

Malam Berandam ( membersihkan anak rambut); salah satu ciri khas upacara bagi pengantin Melayu Riau adalah diadakannya malam berandam. Malam berandam bermakna membersihkan calon pengantin perempaun agar terlihat lebih cantik dan berbeda pada saat resepsi berlangsung. Acara ini dumulaim dengan mencukur anak rambut yang ada disekitar dahi sebagai awal penyucian diri bagi mempelai perempaun. Acara malam berandam dipimpin oleh seorang perempuan yang telah berpengalaman menghias pengantin yang disebut mak andam.




Malam Berinai (memakai pacar); yaitu memerahkan telapak tangan dan kaki calon mempelai pengantin pria dan calon mempelai pengantin perempaun, sebagai tanda bahwa mereka telah resmi menjadi sepasang suami-istri.





b. Saat Pernikahan
Akad Nikah (hari langsung); upacara ini biasanya dilakukan pada malam hari, namun umumnya tetap dilakukan pada pagi hari dengan dipimpin oleh seorang kadhi (penghulu).

Hari Langsung; hari langsung merupakan puncak acara kemeriahan dari sebuah acara kemeriahan dari sebuah pesta pernuikahan. Acara dimuali dengan datangnya iring-iringan pengantin disambut dengan tarian berupa pencak sialt kemudian dilanjutkan dengan perang beras kuning antar rombongan pengantin laki-laki dan rombongan pengantin perempuan. Perang beras kuning tersebutmerupakan pembuka suasana akrab antara kedua rombongan yang mengiringi sang pengantin. 

Sebelum pengantin laki-laki masuk akan disambut acara berbalas pantun dan tak lupa iring-iringan pengantin laki-laki membawa sepucuk surat yang tersimpan dalam bentuk reflika kapal. Saat keduanya duduk dipelaminan, surat kapal pun dibacakan dihadapan para undangan. Isi surat kapal merupakan cerita mengenai riwayat kedua mempelai yang dimulai dari tahap perkenalan hingga akhirnya sampai dipelaminan.

Sembah-menyembah (mohon doa restu); kedua pengantin menyampaikan sembah sujud kepada orang tua mereka untuk memohon restu dalam menjalankan kehidupan berumah tangga.

Makan Berhadapan; setelah hari langsung berakhir pada malam harinya kedua orang tua mempelai laki-laki diundang untuk acara makan berhadapan ditempat keluarga mempelai perempuan.




c. Pasca Pernikahan
Menjelang Mertua; merupakan upacara yang diadakan tiga hari sesudah pernikahan. Pasangan suami istri didampingi beberapa kerabat mendatangi rumah orang tua pengantin laki-laki untuk diperkenalkan kepada kerabat-kerabat yang lain.

Mandi Damai (mandi bersama); tahapan akhir dari upacara pernikahan Melayu Riau ditutup dengan acara mandi damai yang dilakukan kedua mempelai dan keluarganya. Mereka disiram dengan air bunga mayang dan jeruk limau. Mandi damai dimaksudkan sebagai rasa syukur atas menyatunya dua insane dari dua keluarga yang berbeda, disamping menghilangkan rasa kelelahan setelah melaksanakan perhelatan.

Sumber :
Arifah A. Riyanto. 2003. Teori Busana. Bandung: YAPEMDO
Yayasan Harapan Kita.1997. Indonesia Indah. Busana Tradisional :Buku ke- ,
Jakarta: Perum Percetakan Negara Republik Indonesia
http://www.depdagri.go.id/konten.php?nama=Daerah&op=detail_provinsi&id_pr
ov=6&dt=nilai&nm_prov=Riau
http://www.heritage.gov.my/kekkwa/viewbudaya.php?id=2551&PHPSESSID=fb
d19ee3f33592dbf5b5f6026f00d4c7
http://www.tamanmini.com/anjungan/riau/budaya//busana_tradisional_riau

2 komentar: